kisa cinta
BAB 3 — LANGKAH YANG SELALU BERPAPASAN
Musim hujan di Batu Selat punya cara aneh mempermainkan perasaan manusia. Terkadang gerimisnya selembut doa, kadang derasnya membuat orang menyerah pada keadaan. Tetapi ada satu hal yang selalu sama: hujan tak pernah peduli siapa yang ia basahi, ia hanya turun sesuai kehendak langit.
Dan di antara kehendak itu… ada juga pertemuan yang tidak pernah sempat direncanakan.
Sudah hampir dua minggu sejak pagi pertamanya bertemu Dahlia di halte tua. Sidik tidak pernah menghitung hari, tetapi entah kenapa ia bisa merasakan berapa lama waktu berlalu hanya dari seberapa sering ia melihat payung merah itu datang dari kejauhan.
Pagi itu tidak terlalu deras, hanya rintik-rintik kecil. Sidik tiba di halte pukul 05.40—lebih cepat dari biasanya. Ia sendiri tidak menyadari bahwa tubuhnya bergerak lebih awal ketika hatinya sudah melangkah lebih dulu.
Ia berhenti di bawah atap halte yang sama. Menatap ke ujung pasar yang masih remang-remang. Para pedagang baru mulai membuka lapak, suara kayu meja digeser, terpal ditarik, keranjang sayur disusun. Namun di antara semua suara itu, ada satu yang selalu ia tunggu:
Langkah kaki yang ringan, payung tua yang terbuka, dan suara perempuan yang sering terlihat ceria, tetapi menyimpan kedalaman seperti sumur yang tak pernah benar-benar kering.
“Pagi, Pak Penakluk Hujan.”
Suara itu datang dari sebelah kanan.
Dahlia berdiri dua langkah dari halte, dengan payung merah yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Robekan di ujung payung itu masih ada, bahkan tampak makin besar. Tapi anehnya, payung itu terlihat semakin indah di mata Sidik, karena payung itu bukan lagi sekadar benda… ia adalah tanda kehadiran.
Sidik menahan senyum, tetapi gagal.
“Kamu mulai panggil-panggil julukan ajaib, ya?” balasnya.
Dahlia tertawa sambil masuk ke bawah halte. Bahunya masih sedikit terkena rintik hujan dari payung bocor itu.
“Lebih baik punya panggilan daripada cuma saling diam, kan?”
Sidik bersandar ke tiang halte dan menghela napas.
“Kadang diam jauh lebih aman.”
“Memang,” jawab Dahlia sambil melipat payung, air mengalir dari rangka besinya. “Tapi kalau terus diam, kamu nggak akan pernah tahu apa yang seharusnya diucapkan.”
Kalimat itu seperti menyapu permukaan hati Sidik, membuatnya goyah tanpa terlihat.
Sidik bukan tipe laki-laki yang mudah dibaca. Tetapi Dahlia perlahan mulai mengerti bahasa sunyi yang ia ucapkan lewat tatapan, lewat gesture kecilnya, lewat cara ia berdiri seolah menanggung seluruh dunia sendirian.
“Kerja di farm lagi?” tanya Dahlia mengalihkan suasana.
“Iya,” jawab Sidik. “Batusela Agro Farm.”
“Oh…” Dahlia menatap ke luar, ke arah pasar yang makin ramai. “Kamu kerja berat ya?”
“Semua kerja berat kalau hatinya nggak kuat,” ucap Sidik getir.
Dahlia terdiam. Angin lewat di sela halte. Gerimis masih turun.
“Tapi kamu terlihat kuat,” katanya pelan. “Kadang orang kuat bukan yang tidak pernah terluka, tapi yang tetap bekerja saat dia ingin berhenti.”
Sidik menoleh, heran.
“Kamu ngomong seolah kamu kenal aku semalaman penuh.”
“Hampir,” jawab Dahlia, matanya menatap dalam. “Orang yang berdiri lama di halte tua saat hujan tanpa mengeluh, biasanya dia sudah berteman lama dengan badai.”
Sidik menarik napas, lalu memandang jalan. Dia tidak pandai menyangkal, juga tidak pandai membenarkan—tapi kata-kata Dahlia terlalu jujur untuk dilawan.
Dua angkutan lewat, penuh, dan tidak berhenti. Dahlia menghela napas… lalu duduk.
“Kamu tahu nggak, Sidik,” katanya sambil menatap genangan air di tanah. “Kadang rintangan itu bukan datang biar kamu berhenti. Dia datang biar kamu tahu seberapa besar kamu inginkan sesuatu.”
“Kamu bicara soal mimpi atau soal payung?” tanya Sidik, mencoba bercanda.
“Dua-duanya,” jawab Dahlia. Ia menepuk payungnya yang basah. “Payung ini rintangan juga. Tapi aku tetap pakai. Karena dia menghadirkan pertemuan.”
“Pertemuan apa?” Sidik menatapnya.
Dahlia menatap balik.
“Pertemuan yang sama.”
Hening lagi.
Tapi hening itu bukan dinding.
Hening itu jadi jembatan.
Mereka mulai berjalan bersama dari halte menuju belakang pasar ketika angkutan masih belum datang. Tidak ada janji, tidak ada rencana. Tetapi langkah mereka selalu menjadi satu arah ketika suasana terlalu jujur untuk ditolak.
“Kamu pernah jatuh cinta, Sidik?” tanya Dahlia tiba-tiba di tengah genangan air.
Sidik berhenti. Rintik air menyentuh bahunya yang sudah basah.
“Pernah,” ucapnya. “Tapi aku buang jauh setelah dia bikin aku percaya lalu dia pergi. Sejak itu aku nggak berani pakai bahasa cinta lagi. Ini bukan drama, ini trauma.”
Dahlia menelan ludah. Ia tahu itu bukan jawaban yang mudah.
Lalu Dahlia berkata,
“Aku juga pernah jatuh. Aku pernah percaya. Dan aku pernah merasa payungku cukup untuk menahan segalanya. Tapi ternyata hujan juga bisa masuk lewat bawah.”
Sidik melihat Dahlia untuk pertama kali tanpa suara, hanya mata.
Ia melihat kedalaman.
Ia melihat luka.
Luka yang tidak dipamerkan, sama seperti dirinya.
“Kalau begitu,” kata Sidik pelan, “kenapa kamu masih berani senyum di bawah hujan?”
Dahlia tersenyum, bukan tertawa.
Karena ada beda antara tawa dan senyum saat hati bicara.
“Karena kalau aku berhenti senyum, aku kehilangan alasan kenapa aku masih berdiri,” jawabnya lirih. “Manusia boleh kecewa, boleh terluka, boleh ragu… tapi dia tidak boleh berhenti berharap. Karena harapan itu satu-satunya alasan kenapa besok masih pantas disapa.”
Sidik tidak menyahut. Tapi ia mengingat kalimat itu. Dalam. Sangat dalam.
Mereka kembali menunggu angkutan di ujung pasar.
Dahlia berdiri, masih dengan payung merahnya.
Dan Sidik berdiri tanpa payung.
“Kalau hujan terus turun,” ucap Sidik, “kita bisa kehujanan sampai masa depan.”
Dahlia tertawa. Tapi sekarang berbeda.
“Kalau begitu, kamu harus beli payung juga, dong!”
“Ngapain?” balas Sidik. “Payungku manusia.”
Dahlia terdiam hanya satu detik, sebelum wajahnya memerah, menunduk, dan berkata pelan:
“Kalau payungmu manusia, jangan biarkan dia pergi.”
Sidik menatapnya.
“Justru itu yang bikin menakutkan.”
“Kehilangan payung itu gampang. Tapi kehilangan orang tempat kamu berteduh? Itu bisa bikin hati banjir lebih deras dari hujan.”
Dahlia mengusap ujung payungnya lalu menatap Sidik sambil berkata:
“Kalau begitu, jangan berteduh… genggam tangannya. Karena badai tidak akan terus datangkan rintangan kepada orang-orang yang tidak saling kuat.”
Angkutan akhirnya berhenti. Dahlia naik duluan… lalu menoleh:
“Sidik. Sampai jumpa besok. Jangan datang terlalu cepat, aku bisa gugup nanti.”
Sidik hanya mengangguk, tapi ia membiarkan senyumnya terucap tanpa suara.
Dan sekali lagi, hujan jadi saksi.
Langkah jadi janji tak tertulis.
Dan keduanya pulang membawa rasa yang sama — rasa yang belum bernama, tetapi sudah berwarna.
BAB 4 — BATU YANG DIINJAK, BUKAN BATU YANG MENGHENTIKAN
Embun pagi yang bercampur rintik hujan tipis masih menggantung di udara ketika Sidik tiba di Batusela Agro Farm. Suara kambing yang menyambutnya terdengar lebih dulu daripada kaki yang sempat merasa lelah. Ada gumaman panjang dari suara hewan-hewan itu, seperti mereka berkata:
“Kami di sini. Kamu juga harus tetap di sini.”
Di farm, Sidik bukan sekadar pekerja. Ia adalah jantung dari rutinitas. Orang yang datang sebelum matahari sempurna bangun, orang yang bekerja ketika yang lain masih menguap, orang yang menata hari dari hal-hal kecil yang sering tidak sempat dilihat manusia lain.
Batusela Agro Farm bukan hanya sebuah peternakan. Di sana, Sidik tumbuh, jatuh, bangkit, lalu tumbuh lagi. Kandang-kandang, rumput pakan, bau tanah basah, dan suara alam adalah bagian dari terapi yang tak pernah ia sadari sedang menyembuhkan sesuatu di dalam dirinya.
Kerja yang Berat, Tapi Hati yang Makin Hidup
Sidik memulai harinya dengan memberi pakan. Tangannya cekatan mengisi palungan bambu, rumput gajah segar tertata rapi di hadapan kambing-kambing yang tampak lapar. Namun pikirannya sesekali melayang, bukan karena hilang fokus, tetapi karena ada yang perlahan mengisi ruang kepalanya.
Dahlia.
Bayangan itu datang seperti cahaya kecil di tengah gudang gelap. Ia bukan gangguan. Ia justru jadi alasan kenapa Sidik menikmati paginya, meski tubuhnya mulai kenal bahasa lelah.
“Ck, gagal move on, nih orang,” ujar Togar menepuk punggungnya sambil membawa karung dedak.
Sidik tersenyum kecil, setengah mengejek, setengah pasrah.
“Togar… kamu pernah nggak, tiba-tiba semangat bangun pagi padahal kamu nggak tahu semangat itu dari mana asalnya?”
“Oh, pernah,” jawab Togar sambil menyeringai.
“Pas gajian.”
Sidik tertawa pelan.
“Tapi aku belum gajian.”
“Wah…” Togar mengangkat alisnya dramatis.
“Kalau bukan uang, pasti orang.”
Sidik kembali diam sambil menaburkan dedak tambahan.
Dan Togar, meski bercanda, kali ini suaranya turun satu nada, lebih serius.
“Sidiq… hidup itu penuh rintangan, bukan biar kamu kalah.”
Ia mengembuskan napas, menepuk karung pakan.
“Hidup ngasih batu… biar kamu injak, bukan biar kamu berhenti. Bedanya? Kamu yang mutusin mau menjadikan dia tembok, atau pijakan.”
Sidik menatap rekan kerjanya itu lebih lama.
Kalimat sederhana itu terasa seperti garam yang akhirnya membuat sayur hambar jadi punya rasa.
“Pijakan…” gumamnya.
“…kayaknya aku butuh banyak.”
“Semua orang butuh, Bro,” balas Togar, lalu berjalan ke arah kandang lain.
“Tapi kamu cuma butuh satu yang tepat. Itu udah cukup.”
Rintangan Itu Datang Tanpa Surat Undangan
Hari di farm berjalan makin intens saat hujan mulai turun lebih deras menjelang siang. Seorang pemasok pakan terlambat datang, beberapa bal jerami basah karena terpal gudang bocor, dan salah satu anak kambing tersangkut kakinya di pagar bambu kandang belakang.
Kondisi itu bisa membuat orang lain mengeluh, merutuk, bahkan menyerah.
Tapi Sidik?
Ia berlari.
Mengangkat anak kambing itu dengan hati-hati, membebaskan kakinya, lalu memeriksa apakah ada luka. Anak kambing itu mengembik kecil, bukan kesakitan, tetapi seperti berkata: “Terima kasih.”
Sidik mengusap kepala kecil itu.
“Aman… alhamdulillah,” katanya.
Salah satu pekerja lain, Damar, yang biasanya pendiam, menyaksikan itu dan berkomentar:
“Sidiq… kamu sabar banget sama hewan. Kenapa sama manusia kamu sering nggak sabar?”
Sidik menatap gerimis dari celah jendela gudang lalu menjawab singkat:
“Hewan nggak pernah pura-pura. Kalau dia suka, dia datang. Kalau dia butuh, dia bersuara. Manusia sering kebalikannya.”
Damar mengangguk pelan.
“Kalau begitu, semoga yang kamu tunggu juga nggak banyak drama.”
Sidik menoleh sambil tersenyum miring.
“Justru aku hidup dari drama, Mar.”
Tetapi Drama yang Terarah Akan Menjadi Cerita, Bukan Luka
Sore menjelang, pekerjaan Sidik masih belum berhenti. Ia memanjat sedikit ke sisi gudang, memperbaiki terpal, menahan palu dengan satu tangan, paku dengan tangan lain, sementara hujan jatuh ke punggungnya seperti jarum halus.
Di saat itu, Togar berkata dari bawah:
“Gila kamu, Sidik. Kamu udah basah kuyup!”
Sidik memukul paku terakhirnya sambil balas teriak kecil:
“Kalau hujan bikin aku berhenti, aku nggak akan pernah sampai ke batas kering!”
Kalimat itu spontan, tapi semua pekerja terdiam sejenak lalu tertawa.
Ada nada bangkit dalam suaranya.
Karena kalimat itu bukan sekadar ucapan.
Kalimat itu adalah manifestasi.
Hujan tidak pernah menghentikan Sidik — lukanya yang dulu hampir melakukannya, namun ia bangkit sebelum luka itu sempat jadi kemenangan.
Harapan Kadang Datang Saat Kamu Tidak Tahu Kamu Mencarinya
Ketika farm mulai lengang, Sidik berjalan keluar dari kandang belakang sambil menata napas. Ia memandang langit yang mulai gelap, lalu memikirkan langkahnya pulang sendiri seperti dua minggu terakhir ini.
Namun ia belum melangkah jauh… ketika suara yang ia kenal menyusup lewat suara hujan deras.
“Sidik!”
Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat seluruh langkahnya berhenti.
Ia menoleh.
Dahlia berdiri di bawah rintik hujan deras di ujung pagar farm, payung merahnya basah dan makin robek, tapi ia tidak terlihat goyah. Plastik sayur yang ia bawa tergenggam rapi. Jaket tipisnya sedikit basah.
“Astaga… kamu kehujanan lagi,” ujar Sidik spontan.
“Bukan,” Dahlia tersenyum lembut.
“Aku memang lewat. Kamu kerja di farm kan? Aku… lewat sini. Katanya mau beli payung baru, tapi nggak ada yang bagus. Payung yang ini tetap setia dipakai,” katanya sambil mengangkat payungnya.
Sidik menatap ujung payung yang semakin robek lalu berkata:
“Dia bertahan bukan karena kuat, tapi karena kamu nggak pernah ninggalin.”
Dahlia menatapnya balik, lalu suaranya turun sangat lembut seperti doa yang hampir berbisik:
“Kalau manusia bertahan… juga begitu ya, Sidik?”
Sidik terdiam, ditikam lembut oleh makna.
“…ya. Persis begitu.”
Payung Itu Tidak Lagi Menahan Hujan. Ia Menahan Janji
Mereka akhirnya pulang bersama, berbagi payung bocor itu. Jalan penuh genangan air memantulkan sosok mereka seperti dua bayangan yang sedang diuji.
Tidak ada pegangan tangan.
Tidak ada ungkapan cinta berlebihan.
Tidak ada janji manis.
Tapi ada satu hal yang tumbuh kuat dan jujur di antara langkah mereka:
Mereka mulai bertahan pada pertemuan, bukan pada kebetulan.
Setelah sampai di pertigaan yang memisahkan rumah mereka, Dahlia berkata:
“Hidup ini banyak rintangan ya, Sidik.”
Sidik mengangguk. “Banyak.”
“Tapi kalau kamu ketemu seseorang di tengah rintangan itu…”
Dahlia menutup payungnya pelan, menatap langsung ke matanya.
“Semoga dia jadi makna, bukan cuma luka.”
Hujan jatuh ke pundak mereka berdua.
Sidik menatapnya, lalu berkata dengan suara yang lebih berat dari angin:
“Amin… semoga begitu.”
Pertemuan berhenti di sana.
Tapi maknanya berjalan lebih jauh.
Komentar
Posting Komentar