kisah cinta

BAB 1 — PERTEMUAN DI BAWAH HUJAN

(Versi Panjang — Novel Detail & Dramatis)

Hujan pertama di bulan itu turun tanpa permisi. Langit yang sejak pagi redup akhirnya pecah, menjatuhkan butir-butir air seperti jarum tipis yang menusuk kulit. Jalanan kota kecil Batu Selat mendadak berubah menjadi saluran-saluran kecil yang mengalirkan air ke mana-mana. Aroma tanah basah memenuhi udara—aroma yang bagi sebagian orang menenangkan, namun bagi Sidik Permana, justru membawa sebuah perasaan yang sulit dijelaskan.

Di bawah langit kelabu itu, Sidik berdiri mematung di halte tua yang tiangnya berkarat dan atapnya berlubang di beberapa bagian. Jaket kerjanya yang sederhana—warna abu-abu yang mulai memudar—sudah basah di bagian pundak. Sepatunya diguyur air, membuat celana panjangnya melekat pada kulit. Ia mengelap wajahnya yang terkena cipratan air hujan, menghela napas panjang, lalu menatap jauh ke arah jalan.

Ia sudah dua puluh menit menunggu angkutan yang entah mengapa tidak kunjung muncul.

“Kalau begini terus, telatlah aku,” gumamnya sambil menendang kecil kerikil di kakinya.

Jam kerjanya dimulai pukul tujuh. Dan jarak dari halte ini ke tempat kerjanya—sebuah peternakan besar tempat ia bekerja sebagai petugas lapangan—cukup jauh. Telat berarti potongan gaji. Potongan gaji berarti makan lebih sedikit bulan ini. Dan makan lebih sedikit berarti ia makin susah menghidupi ibunya di rumah.

Sidik memejamkan mata sejenak.

Hidup memang sempit baginya. Tapi ia terus berjalan. Biar pun berat.

Hujan makin deras. Butir-butir air menabrak tanah, melompat seperti ribuan mutiara gelap di jalan. Angin meniup kuat, membuat tubuh Sidik sedikit menggigil.

Ketika ia hampir memutuskan untuk berjalan kaki saja—meski itu akan membuatnya basah kuyup dan pasti sangat terlambat—ia mendengar langkah cepat dari arah belakang halte.

Langkah itu ringan, namun tergesa. Lalu suara kecil, seperti seseorang mendesah pelan karena kelelahan.

Sidik menoleh.

Dan saat itu—jantungnya seperti terhenti satu detik.

Seorang perempuan berlari kecil ke arah halte sambil memegang payung merah yang sudah robek di ujungnya. Robek itu membuat air hujan terus menetes ke pundaknya. Rambut hitamnya, panjang dan agak bergelombang, menempel di pipinya. Nafasnya tersengal, tapi wajahnya tetap membawa sesuatu yang menenangkan. Matanya—entah bagaimana—memantulkan cahaya yang berbeda, seolah hujan bukan musuh baginya.

Perempuan itu berhenti tepat di samping Sidik.

Ia menunduk, mencoba mengatur napas, lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil.

“Payungku kalah,” ucapnya lirih, sembari memegang ujung payung yang robek.

Sidik menatap payung itu, lalu menatap perempuan itu lagi.
Dan tanpa sadar, kemarin yang begitu berat terasa sedikit lebih ringan.

“Payungmu… bocor,” kata Sidik dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Perempuan itu tertawa kecil. Tawa yang lembut, seperti denting kaca yang jatuh pelan di lantai.
“Mmm… iya. Tapi setidaknya masih bisa menahan separuh hujan.”

Sidik tidak siap untuk itu. Tidak siap untuk tersenyum. Tidak siap untuk merasakan hangat dalam situasi sesederhana ini.

“Kenapa hujan selalu turun saat aku buru-buru?” gumam perempuan itu sambil mendesah kesal namun tetap tersenyum seperti mengalah pada nasibnya sendiri.

Sidik tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah jalan lagi, mencoba kembali fokus pada hidupnya yang sederhana dan keras. Tapi matanya selalu kembali ke perempuan itu. Ada sesuatu pada caranya mengeluh yang tidak membuat orang jengkel, melainkan… membuat hati tenang.

Perempuan itu menggenggam handle payung merahnya lebih kuat, lalu melirik Sidik.

“Kamu sudah lama nunggu?”
“Lumayan,” jawab Sidik singkat, seperti biasa.

“Oh. Kasihan juga ya… basah begitu,” ucapnya sambil menunjuk jaket Sidik.

Sidik terhenyak. Jarang ada orang yang peduli padanya. Bahkan sekadar komentar kecil seperti itu sudah cukup membuat dadanya terasa hangat.

Ia mengangkat bahu. “Biasa. Angkutannya jarang lewat kalau hujan.”

Perempuan itu mengangguk pelan.

“Namamu siapa?” tanyanya tiba-tiba.

Sidik memandangnya dengan setengah terkejut. Tidak semua orang berani langsung bertanya begitu, apalagi kepada laki-laki asing di halte tua pada pagi yang muram.

Tapi matanya… matanya jujur.

“Sidik,” jawabnya. “Sidik Permana.”

Perempuan itu tersenyum… dan entah bagaimana, Sidik merasa senyum itu jauh lebih hangat dari jaket tebal apa pun.

“Aku Dahlia,” ucapnya sambil merapikan rambutnya yang basah.

Dahlia.
Nama itu terdengar seperti sebuah bunga kecil yang tumbuh di tengah musim dingin—rapuh tapi tetap mekar.

“Dahlia Yanti,” tambahnya sambil sedikit menunduk seperti memperkenalkan diri secara sopan.

“Nama yang bagus,” respon Sidik pelan.

Dahlia tertawa, menutupi mulutnya yang mungil.
“Kamu orang pertama hari ini yang bilang begitu.”

Angin kembali berhembus, membuat tubuh mereka berdua sedikit menggigil. Atap halte bocor tepat di tengah, membuat suara air jatuh terdengar ritmis seperti ketukan jam. Hujan yang semakin deras membuat kabut tipis naik dari tanah, menciptakan suasana yang anehnya… sangat damai.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang merasa canggung. Dahlia menatap hujan, Sidik menatap jalan, tetapi hati keduanya mulai merasakan sesuatu yang tidak mereka pahami.

Sebuah perasaan bahwa dunia yang luas ini tiba-tiba mengecil, menyisakan hanya halte rusak, dua orang asing, dan hujan yang menjadi saksi diam.

Saat itulah Dahlia berkata lirih, “Aku suka hujan.”

Sidik sedikit menoleh. “Kenapa?”

“Hujan menenangkan. Dan… entahlah.” Ia menoleh ke Sidik. “Rasanya hujan membuat semuanya terasa lebih jujur.”

Sidik tidak mengerti—atau mungkin ia mengerti, tetapi tidak bisa menjelaskannya.

Perempuan ini berbeda. Tidak seperti perempuan lain yang pernah ditemuinya. Cara Dahlia melihat dunia—cara dia memandang hujan—tidak sama. Dan mungkin… itu hal yang paling menarik bagi Sidik.

Tiba-tiba, angin bergemuruh dan atap halte bergetar keras.

Dahlia sedikit terkejut, lalu tanpa sadar mendekat satu langkah ke arah Sidik.

Hanya satu langkah. Tapi jarak itu cukup untuk membuat detak jantung Sidik berubah.

Hujan terus turun, namun bagi Sidik, dunia terasa berhenti sejenak.

Di antara derasnya hujan itu, cerita hidupnya yang kelam, dingin, dan penuh beban mendadak diberi satu warna lain—warna merah payung Dahlia, yang kusam tapi indah.

Mereka tidak tahu bahwa pertemuan ini akan mengubah hidup mereka.
Tidak tahu bahwa hari ini adalah permulaan dari cerita ratusan halaman yang penuh air mata dan cinta.

Yang mereka tahu hanya satu:

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hati mereka tidak kesepian.

Dan hujan menjadi saksi pertama dari segalanya.

BAB 2 — PAYUNG MERAH DAN HANGAT YANG TAK DISADARI

(Versi Panjang — Novel Puitis, Dramatis, Mendalam)

Hujan turun hampir sepanjang malam. Ketika fajar muncul, langit masih kelabu seakan belum ingin melepaskan kesedihan yang ditumpahkannya semalam. Bagi kota kecil Batu Selat, hujan bukanlah hal asing. Namun bagi Sidik, pagi itu berbeda.

Ia bangun lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang terasa… menggelitik pikirannya. Seakan ada sesuatu yang belum selesai dari hari kemarin. Sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat dengan cara yang tidak ia pahami.

Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah, lalu menatap jendela yang penuh titik-titik air hujan.

“Hari ini… hujan lagi,” gumamnya.

Biasanya, hujan membuat harinya buruk. Tapi kali ini? Tidak. Ada bayangan yang muncul tanpa diundang di pikirannya: wajah perempuan dengan payung merah yang robek itu.

Dahlia.

Nama itu berputar-putar di pikirannya seperti kaset tua yang terus diputar ulang.

Sidik menggelengkan kepala, mencoba kembali fokus pada rutinitasnya. Ia mandi dengan cepat, mengenakan jaket lamanya, dan memasukkan sedikit roti ke dalam saku—makanan yang mungkin akan dimakannya di tempat kerja nanti.

Ia tidak tahu kenapa, tapi langkahnya terasa lebih ringan hari itu. Seakan kaki dan hatinya sama-sama ingin sampai ke halte lebih cepat.


Halte tua itu basah akibat hujan semalaman. Atapnya bertetesan air dari celah kecil yang semakin melebar. Pohon trembesi di samping halte menjatuhkan air dari daunnya, membuat suara “tik… tik…” yang menenangkan.

Sidik tiba lebih awal dari biasanya.

Ia berdiri di tempat yang sama seperti kemarin. Memandang ke arah jalan. Menunggu. Bukan angkutan. Bukan hujan berhenti.
Tapi…

Ia menunggu sesuatu yang baru baginya. Sesuatu yang bahkan tidak berani ia akui.

Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Tidak ada tanda-tanda.

Hanya hujan tipis yang turun, gerimis yang halus seperti kabut.

Sidik mulai merasa bodoh. “Kenapa aku menunggunya?” gumamnya.

Ia baru saja hendak duduk ketika suara langkah-langkah kecil terdengar dari arah kiri.

Langkah ringan. Tergesa-gesa.
Langkah yang sudah ia kenal.
Langkah yang ia dengar semalam di bawah derasnya hujan.

Sidik menoleh.

Dahlia datang sambil membawa payung merah yang sama—masih robek di ujungnya, masih meneteskan air ke bahu kirinya. Rambutnya sedikit berantakan namun tetap cantik, wajahnya sedikit sembab… entah karena dingin atau kurang tidur.

Dan saat matanya bertemu dengan mata Sidik…

Dahlia tersenyum.

Senyum yang membuat pagi muram itu terasa jauh lebih terang dari yang seharusnya.

“Kita ketemu lagi,” katanya dengan suara lembut.

Sidik tidak bisa menahan senyum kecil. “Iya… ketemu lagi.”

Dahlia mengusap hujan yang menempel di pipinya. “Sepertinya kita memang ditakdirkan ketemu di halte tua ini.”

Ditakdirkan.

Kata itu menancap di hati Sidik, menimbulkan getaran halus yang sulit dijelaskan.

“Apa kamu selalu lewat sini?” tanya Sidik, mencoba terdengar biasa.

“Kalau nggak hujan, aku jalan kaki lewat belakang pasar,” jawab Dahlia sambil membenarkan posisi payungnya. “Tapi kalau hujan… ya begini. Payungku cuma bisa bertahan kalau anginnya nggak terlalu kuat.”

Sidik mengangguk.
Ia ingin menawarkan jaketnya.
Ingin berkata: “Pakai jaketku biar kamu nggak kedinginan.”
Tapi ia menahan diri. Ia tidak ingin terlihat terlalu cepat akrab, meski hatinya sendiri sudah berlari jauh.

Mereka berdiri berdampingan dalam diam. Namun diam itu bukan diam yang canggung. Diam itu justru terasa… nyaman.

“Tadi aku hampir nggak datang,” kata Dahlia tiba-tiba.

“Oh?” Sidik menoleh.

“Tapi… entah kenapa aku merasa harus datang.”
Dahlia tersenyum kecil sambil menatap jalan yang sepi.
“Kayak ada yang menunggu aku.”

Detik itu, Sidik merasakan wajahnya memanas.

Ia menunduk sedikit, menutupi reaksi yang tidak ingin ia tunjukkan.

“Aku… mm… iya, aku nunggu angkutan,” jawabnya cepat.

Dahlia tertawa kecil.
“Aku nggak bilang yang nunggu itu kamu, Sidik.”

Sidik hampir tersedak napasnya sendiri.

“Tapi aku senang kalau yang nunggu itu memang kamu,” tambah Dahlia pelan.

Kali ini Sidik tidak bisa menahan ekspresinya. Ia menatap Dahlia lama—lebih lama dari seharusnya. Dahlia menunduk malu, menggigit bibir bawahnya sedikit sebelum mengalihkan pandangan.

Angin bertiup pelan, membawa aroma hujan dan tanah basah. Ada sesuatu yang lembut dan hangat menyelimuti dua orang asing yang berdiri di bawah halte rusak itu.

Jarak mereka masih satu lengan. Tetapi entah sejak kapan, mereka merasa jauh lebih dekat dari itu.


Beberapa menit berlalu, dan akhirnya kendaraan yang mereka tunggu muncul di ujung jalan. Namun saat angkutan itu berhenti, Dahlia tidak langsung naik.

“Sidik,” panggilnya pelan.

“Hm?” Sidik menoleh.

Dahlia mengangkat payung merahnya yang robek itu, memperlihatkan lubang di ujungnya.

“Aku kayaknya harus beli payung baru,” katanya sambil tertawa kecil.

“Kamu harus,” balas Sidik.

“Tapi aku suka payung ini. Meski robek, tapi dia nemenin aku dari dulu. Ada banyak kenangan.”

“Kalau begitu, jahit saja,” kata Sidik tanpa berpikir. “Biar tidak bocor.”

Dahlia menatap Sidik dalam-dalam.

“…kamu punya banyak cara membuat sesuatu yang rusak kembali berfungsi, ya?”

Sidik terdiam.
Tidak tahu harus menjawab apa.
Tidak tahu kenapa kata-kata Dahlia selalu mengenai bagian hatinya yang paling sensitif.

“Kayaknya… aku akan tetap pakai payung ini kalau hujan,” ucap Dahlia lagi. “Supaya aku masih bisa… bertemu seseorang di halte ini.”

Sidik menatap jalan, mencoba menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia tahan.

“Kamu berangkat dulu, Sidik. Nanti kamu telat.”

Dahlia naik angkutan lebih dulu, tetapi sebelum pintu ditutup, ia menoleh sekali lagi dan berkata:

“Sampai ketemu besok… kalau hujan.”

Sidik menatap angkutan yang perlahan menjauh di tengah gerimis. Payung merah Dahlia terlihat samar dari balik kaca, perlahan menghilang.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sidik berharap besok… hujan lagi.


Siang harinya, di tempat kerja, Sidik tidak seperti biasanya. Rekan-rekannya yang biasanya bercanda pun kali ini merasa heran.

“Hei, Sidik. Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Togar, rekan sekamarnya di peternakan.

Sidik hanya menggeleng. “Nggak apa-apa.”

Togar mencibir. “Pasti ada cewek.”

Sidik hampir tersedak air minumnya. “Ngg… nggak. Mana ada.”

“Jangan bohong,” Togar menepuk pundaknya. “Aku kenal kamu. Kamu cuma senyum kayak gitu kalau ada sesuatu.”

Sidik mengalihkan pandangan.
Sesuatu?
Atau seseorang?

Ia tidak bisa menjawabnya. Yang ia tahu hanya satu: pertemuan pagi tadi terus mengisi pikirannya.

Suara Dahlia.
Tawa Dahlia.
Cara Dahlia memegang payung robeknya.
Bagaimana matanya memandang dunia seolah semuanya punya cerita.

Sidik menggenggam jemari tangannya sendiri, mencoba menghentikan gemuruh kecil dalam dadanya.

“Seseorang… ya?” gumam Togar sambil tertawa.

Sidik tidak menjawab.

Karena untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyangkal.

Ya.
Ada seseorang.


Sore menjelang, hujan turun lagi. Namun kali ini lebih lembut, seperti rintik halus yang jatuh dari ujung dedaunan.

Dalam perjalanan pulang, Sidik melihat payung merah itu di kejauhan. Tidak salah lagi. Dahlia berjalan pelan melewati kios sayur, membawa payung merahnya yang robek… dengan langkah yang tidak terburu-buru.

Seolah ia menunggu seseorang mengenalinya dari jauh.

Sidik memperlambat langkah.

Dahlia melihatnya.
Mata mereka bertemu.
Dan payung merah itu berhenti bergerak.

“Sidik?”
Suara lembut itu terdengar di antara suara hujan.

“Kenapa kamu di sini?” tanya Sidik.

“Aku beli sayur,” jawab Dahlia sambil menunjukkan plastik kecil di tangan kirinya. “Kamu lewat sini juga?”

Sidik mengangguk.

Dahlia tersenyum kecil. “Sepertinya kita sering lewat jalan yang sama.”

Mereka berjalan berdampingan tanpa payung untuk Sidik—karena Sidik menolak. “Aku sudah basah sejak tadi.”

Dahlia menatapnya beberapa detik, lalu berkata:
“Kalau begitu… setidaknya biar kita basah bersama.”

Untuk pertama kalinya, mereka berjalan satu arah, satu langkah, satu irama.

Dan di bawah payung merah yang robek itu, dunia terasa cukup untuk dua hati yang mulai bergerak ke arah yang sama.

Di akhir jalan, sebelum mereka berpisah, Dahlia berkata:

“Sampai jumpa besok, Sidik.”
Ia menatap langit yang mulai gelap.
“Semoga… hujan lagi.”

Detik itu, Sidik tahu satu hal:

Payung merah itu…
pertemuan itu…
Dahlia…

semuanya perlahan menjadi bagian dari dirinya.

Dan ia tidak ingin kehilangan itu.

Komentar

Postingan Populer